Jumat, 25 Januari 2013

-Aku dan Tuhanku-



Tuhan, Kau lahirkan aku tak pernah kuminta
Dan aku tahu, sebelum aku Kau ciptakan
Berjuta tahun, tak berhingga lamanya
Engkau terus menerus mencipta berbagai ragam

Tuhan, pantaskah Engkau memberikan hidup sesingkat ini
Dari berjuta-juta tahun kemahakayaan-Mu
Setetes air dalam samudra tak bertepi
Alangkah kikirnya Engkau, dengan kemahakayaan-Mu

Dan Tuhanku, dalam hatikulah Engkau perkasa bersemayam
Bersyukur sepenuhnya akan kekayaan kemungkinan
Terus menerus limpah ruah Engkau curahkan
Meski kuinsyaf, kekecilan dekat dan kedaifanku
Di bawah kemahakuasaan-Mu, dalam kemahaluasan kerajaan-Mu
Dengan tenaga imajinasi Engkau limpahkan
Aku dapat mengikuti dan meniru permainan-Mu
Girang berkhayal dan mencipta berbagai ragam
Terpesona sendiri menikmati keindahan ciptaanku

Aahh, Tuhan
Dalam kepenuhan terliput kecerahan sinar cahaya-Mu
Menyerah kepada kebesaran dan kemuliaan kasih-mu
Aku, akan memakai kesanggupan dan kemungkinan
Sebanyak dan seluas itu Kau limpahkan kepadaku
Jauh mengatasi mahluk lain Kau cipatakan
Sebagai khalifah yang penuh menerima sinar cahaya-Mu
Dalam kemahaluasan kerajaan-Mu

Tak adalah pilihan, dari bersyukur dan bahagia, bekerja dan mencipta
Dengan kecerahan kesadaran dan kepenuhan jiwa
Tidak tanggung tidak alang kepalang
Ya Allah Ya Rabbi
Sekelumit hidup yang Engkau hadiahkan
dalam kebesaran dan kedalaman kasih-Mu, tiada berwatas
akan kukembangkan, semarak, semekar-mekarnya
sampai saat terakhir nafasku Kau relakan

Ketika Engkau memanggilku kembali kehadirat-Mu
Ke dalam kegaiban rahasia keabadian-Mu
Dimana aku menyerah tulus sepenuh hati
Kepada keagungan kekudusan-Mu,
Cahaya segala cahaya

Sutan Takdir Alisyahbana
Toya Bongkah
24 April 1989

Sabtu, 15 Desember 2012

Para Pencari Kamboja



Dentang dua kali, masih hening malam ini. Aku terbangun oleh alunan Shalawat Tarhim dari alarm di sampingku. Masih enggan beranjak dari mimpi, tapi berisik suara tangisan anak kecil di rumah sebelah memaksaku mengintip dari jendela kamar. Remang terlihat sesosok ibu sedang menggendong anaknya yang ingin ikut pergi. Kemanakah mereka sepagi buta ini? Tanya hatiku pelan, sambil mengamati mereka yang mengendap berjalan.

Rasa penasaran dalam hatiku tidak juga beranjak lalu, maka ketika bertemu mereka ketika hari mulai siang aku bertanya pada mereka, kemana sepagi buta tadi. Sungguh jawaban itu membuatku berkali menghela nafas kuat-kuat, ada sesak merambat naik memenuhi hati kecil ini. Ibu itu sebelum subuh tadi menyusuri jengkal makam, mengumpulkan bunga-bunga Kamboja yang berjatuhan.


Memang, mengumpulkan bunga Kamboja sedang marak di kampung kecil ini. Kandungan kimia dalam bunga Kamboja bisa dijadikan seduhan teh atau bahan kosmetik. Ada penadah yang menerima berapapun hasil yang mereka kumpulkan tiap harinya. Untuk kemudian dikirimkan ke pabrik yang mengolah menjadi barang siap konsumsi.

Tapi memulai upaya mengejar rizki ketika yang lain masih terlelap dan enggan melawan dingin itu yang membuatku berulang-ulang menghela nafas kuat. Haruskah sedini itu memulainya? Mengabaikan rasa khawatir ada orang yang hendak berbuat jahat, tidak memperdulikan hawa dingin yang siap menusuk tulang.

Dan ya, aku tersadar, Allah mencintai orang-orang yang bekerja keras, dan meluangkan banyak waktu untuk selalu mengingatNya. Terimakasih memberiku pemahaman yang baik ini.

:) Na